Search

Album of The Day: Sabrina – I Love Acoustic Too

Sebuah tembang dari Jason Mraz “I’m Yours” membuka sesi akustik kita bersama Sabrina. Gesekan biola dan suara lembut dari Sabrina membuka lagu ini. Jika versi aslinya Mraz membawakannya dengan sangat groovy di lagu ini dia membawakannya cukup tenang dan nyaman untuk didengar. Lagu dari Savage Garden “I Knew I Loved You” dibawakan dengan lembut dan tidak terlalu melenceng dari lagu aslinya. Petikan gitar membuka hits John Mayer “Your Body Is A Wonderland”, lagunya sendiri enak sama seperti lagu aslinya. Di “Bad Day”nya Daniel Powter lagu ini berbeda dengan versi aslinya yang menguatkan unsur piano di lagu ini hanya ada musik yang down-beat dan petikan gitar yang manis dari dia. Cover song yang lumayan. Lalu cover hit Lady Gaga “Poker Face” adalah cover song yang istimewa diantara album ini. Saya sudah banyak mendengar cover dan versi akustik dari lagu ini dan ini adalah salah satu yang terbaik. Lagu yang temanya sendiri cukup nakal dibawakan tenang dan lancar oleh dia. Di bagian reffnya dibubuhi musik yang sedikit upbeat dan enak.

”Bleeding Love” Leona Lewis dibawa lebih upbeat oleh dia, kesan mellow dari versi aslinya tertutupi. ”Apologize”, makin menambah hangat dan sendu suasana di album ini. Di lagu ini ada gesekan biola yang makin menambah miris suasana lagu ini. ”Because Of You” mengulang kembali cover version ala Ken Hirai namun di lagu ini soundnya lebih rame. ”Take A Bow” juga lumayan. ”Stick With You” dibawakan oleh dia lebih lambat. ”Insomnia”nya Craig David memang single yang bernuansa dance tapi di sini dia membawakannya dengan tempo yang lebih lambat sehingga nuansa lagunya dapet.

Jika The Killers “Mr.Brightside” maka Sabrina adalah “Ms.Brightside”. Jika lagu aslinya bertempo cepat dan keras maka di lagu ini dia membawakannya secara lambat, pelan, smooth dan lembut. Suara dia di sini mirip Zee Avi. ”Everything You Want” dari Vertical Horizon juga dibawakan cukup ciamik dan lumayan untuk dicoba. Snow Patrol hit “Chasing Cars” dibawakan hampir sama seperti yang aslinya namun di bagian ending lagu ini tidak disisipi oleh bumbu rock namun akustik yang dibawakan oleh Sabrina. Cukup bisa menghangatkan hati dan cocok didengarkan bersama pacar sambil berdua. Saya sangat suka dia membawakan kembali “How To Save A Life” seolah ada sesuatu kenyamanan sendiri mendengar lagu ini. Lagu “Iris” juga dibawakan sangat baik oleh dia, seolah mengulang kembali versi aslinya namun dengan orientasi akustik yang lebih banyak.”Wherever You Will Go” dari The Calling dibawakan dengan gaya minimalis.

Dan penutupnya adalah “Ordinary People” dari John Legend dan dibawakan dengan sangat apik dan baik oleh dia. Good closing. Yap,penyanyi asal Filipina ini membawakan sesuatu yang nice dan ekletik dalam sesi akustiknya kali ini.Suara dia yang loveable membuat daya tarik album ini makin bertambah. Mendengarkan isi dari album ini kita bagaikan berada di sebuah kafe dan melihat performance Sabrina sambil menikmati hangatnya minuman yang disajikan. Nice album!
(Luthfi / CreativeDisc Contributors)

Track List:

01. I’m Yours
02. I Knew I Love You
03. Your Body Is A Wonderland
04. Bad Day
05. Poker Face
06. Bleeding Love
07. Apologize
08. Because Of You
09. Take A Bow
10. Stickwitu
11. Insomnia
12. Ms. Brightside
13. Everything You Want
14. Crashing Cars
15. How To Save A Life
16. Iris
17. Wherever You Will Go
18. Ordinary People

Razia Ponsel di Jam Belajar Melanggar Hak Anak

Razia isi telepon seluler atau ponsel milik pelajar yang dilakukan saat jam belajar berlangsung, sepatutnya dihentikan. Razia isi ponsel milik pelajar di tengah jam belajar sekolah itu mengganggu kenyamanan belajar murid dan melanggar hak pendidikan anak.

Demikian dikatakan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam jumpa pers di Kantor Komnas Perlindungan Anak, Jakarta, Sabtu (12/6/2010) tadi. Jumpa pers menghadirkan pula Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman sebagai nara sumber.

Arist menilai, razia ponsel justru berdampak negatif dan kontraproduktif terhadap upaya pencegahan penyebaran video porno di kalangan pelajar. Razia ponsel itu dilakukan aparat dinas pendidikan dan polisi dengan alasan untuk mengantisipasi dan menghentikan penyebaran video porno serta mencegah dampak buruk pornografi.

“Tetapi dampaknya, murid -murid dapat mengalami trauma dan terganggu rasa nyamannya untuk belajar. Anak-anak tersebut adalah korban dari peredaran tayangan video porno ini, tetapi kenapa mereka yang justru dihukum seperti dengan dilakukannya razia pada saat jam pelajaran. Perlakuan itu tidak adil bagi anak-anak,” kata Arist.

Menurut Arist, pelaksanaan razia semacam itu lebih merupakan sikap reaktif pemerintah daripada upaya pencegahan terhadap dampak buruk penayangan dan penyebaran video porno di kalangan anak-anak dan pelajar.

Karena itu, kata Arist, Komnas Perlindungan Anak mendesak pemerintah mengedepankan langkah komunikatif sebagai upaya pencegahan penyebaran video porno terhadap anak-anak.

“Kami meminta Menteri Komunikasi dan Informatika agar pemerintah lebih menekankan upaya pembangunan karakter anak, Menteri Pendidikan Nasional agar pihak dinas pendidikan di daerah segera menghentikan razia terhadap pelajar, dan Mabes Polri agar polisi segera mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat,” ujar Arist.

Sedangkan Elly mengatakan, orang tua sepatutnya meluangkan waktu yang cukup bersama putera puteri mereka untuk membahas pengaruh buruk tayangan pornografi. Pornografi merusak perkembangan dan pertumbuhan otak, kepribadian, dan emosional serta spiritual anak.

Sangat diperlukan komunikasi yang baik antara orang tua, terutama ayah, dan anak. Tetapi banyak orang tua yang tidak tahu cara berkomunikasi yang baik dengan anak-anak mereka, kata Elly dalam jumpa pers tadi.

Elly mengatakan, anak-anak sudah canggih dan akrab dengan teknologi dan fasilitasnya namun mereka perlu bimbingan agar memahami dan bijaksana dalam menggunakan teknologi dan fasilitas yang mereka miliki.

Gara-gara Jabulani, Inggris Gagal Menang

IPB Badge
RUSTENBURG. KOMPAS.com — Kapten tim nasional Inggris, Steven Gerrard, menolak menyalahkan kiper Robert Green atas hasil imbang 1-1 yang diraih timnya saat menghadapi Amerika Serikat (AS) pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Menurut Gerrard, semua orang tahu bahwa bola resmi Piala Dunia, Jabulani, memang merepotkan para kiper.

Pada pertandingan itu, Inggris sempat unggul berkat gol Gerrard pada menit keempat. Namun, pada menit ke-40, AS mampu menyamakan kedudukan melalui Clint Dempsey.

Green sebetulnya berhasil menangkap bola. Namun, entah kenapa, bola lepas dari dekapannya dan bergulir masuk ke gawang.

“Itu adalah salah satu hal aneh. Aku tak berpikir, Anda bisa mengkritik kiper karena orang sudah mengkritik bola itu dan bola itu sangat sulit. Jadi, kami harus berada di belakang Robert dan mendukungnya. Aku yakin ia akan membuat penyelamatan penting bagi kami,” ungkap Gerrard.

“Robert adalah manusia. Aku yakin ia akan belajar dari ini dan menjadi semakin kuat. Ia mungkin akan melakukan penyelamatan penting yang akan membuat kami memenangi pertandingan. Jadi, kami sungguh-sungguh mendukungnya,” tandasnya.

Dengan hasil tersebut, Inggris dan AS menduduki posisi dua besar klasemen Grup C dengan satu poin. Inggris masih memiliki dua pertandingan lagi, yaitu melawan Slovenia dan Aljazair.